Jumat, 13 Juni 2014 di IAIN Surakarta tempat diselenggarakannya PORSENI STAIN-IAIN Se-Jawa-Madura yang dikenal dengan nama IPPBMM V, diikuti oleh 9 STAIN-IAIN Se-Jawa dan STAIN Salatiga khususnya TBI (Tadris Bahasa Inggris) juga mengirimkan wakilnya di berbagai cabang lomba. Salah satu cabang yang cukup bergengsi adalah pidato bahasa Inggris. Total keseluruhan peserta ada 14 peserta dengan pembagian 5 peserta putra dan 9 peserta putri.
Lomba baru dimulai ba’da jumatan karena paginya arena dipakai oleh lomba puisi. Pada lomba speech kali ini akan dinilai oleh 3 juri, 1 perempuan, 2 laki-laki: salah satunya native speaker.
Di bawah ini, beberapa peserta putra English Speech:
Setelah pengambilan nomor undi, peserta putra semua secara urut maju bergantian. Surya Agung Wijaya, wakil dari STAIN Salatiga mendapatkan nomor urut ke-empat dari 5 peserta. Sebenarnya kondisi surya sedang sakit, namun dia penuh semangat tetap mengikuti perlombaan dengan datang diantar temannya jumat pagi-pagi sekali dari Salatiga. Topik pidatonya berkisah tentang kasus Gang Dolly yang menurut dia akan lebih baik jika businesss “remang-remang” tersebut dialihkan ke “creative” business. Apakah itu? peran mahasiswa yang jadi tema inti pidato di sini, dia menjelaskan mahasiswa diharapkan ikut terjun langsung membantu pemecahan solusi gang dolly tersebut. Selain mereka berpartisipasi dalam penyuluhan kesehatan, namun juga memberikan training untuk membuat bisnis yang lebih HALAL, misalnya dengan home industry. Dia memberikan contoh seorang pemilik warung Rujak Cingur di Surabaya yang bisa meraup keuntungan yang cukup besar per harinya dengan bisnis kuliner tersebut.
Kemudian di akhir speech, juri diberi kesempatan untuk memberikan komentar. Juri pria menanggapi bahwa speechnya sangat bagus baik dari performance maupun content-nya yang cukup well-organized. Namun, kelemahannya Surya kurang begitu mengeksplor peran mahasiswa dalam menanggapi masalah-masalah yang dia paparkan di awal dan juga judul pidatonya agak ambigu di awal namun karena itulah para audience menjadi sangat tertarik untuk mengikuti kelanjutan pidatonya. Terlepas dari segala kekurangan, sangat membanggakan penampilan Surya. “Sudah maju dengan cukup bagus dengan kondisi badan yang kurang fit sudah plong, tutur Surya. “Pasrah dan berdoa, semoga masuk 3 besar dek,” saya sebagai pendamping menyemangati dia.
Di bawah ini, beberapa peserta putri English Speech:
Setelah beberapa peserta maju, giliran Fatikhah Fajar Sari menampilkan performa terbaiknya. Sebelumnya, Fatiha pernah memenangkan lomba speech di Festival Bahasa yang diadakan di STAIN Salatiga.
Seperti biasa, dia selalu menonjol dengan fast speech style-nya. Dia agak sedikit kerepotan karena merujuk pada juklak yang dikirim oleh panitia 2 minggu sebelum pelaksanaan, panjang speech yang ditampilkan maksimal 15 menit. Sedangkan keputusan TM secara mendadak pukul 11 tadi malam memutuskan bahwa lamanya performance maksimal 7 menit. Jadi, otomatis konten speech harus dikurangi hampir setengahnya dan tentunya bagi peserta yang sudah hafal harus kembali menghafal urutan pidato yang akan mereka sampaikan. Namun, melihat performanya cukup memberikan harapan dia akan meraih the best karena melihat peserta lainnya mereka hanya memberikan solusi secara wacana saja tanpa ada data atau fakta yang mendukung. Hal-hal penting tersebut merupakan kunci unik dari STAIN Salatiga untuk meraih kemenangan. Sayangnya, juri perempuan tidak menyukai style cepat Fatiha ketika berpidato. Beliau menuturkan, Fatiha hanya menghafal saja teks pidatonya tanpa ada interaksi dengan penonton, sehingga juri tersebut merasa capek mendengarkan pidato Fatiha. Meskipun demikian, kami tetap merasa puas dengan penampilan fatiha yang sudah kembali bisa memantapkan diri dengan performa terbaiknya. “Open terhadap kritik.” Fatiha menanggapi komentar tersebut.
Alhamdulillah, beberapa saat kemudian saya diberitahu Fatiha, kalau surya juara 1 dan Fatiha juara 2. Walaupun Fatiha belum mendapatkan the best kali ini, kami tetap bangga terhadap prestasi mereka berdua. Semoga ke depan akan lebih baik lagi. Amin. 🙂
Di samping itu, ada beberapa mahasiswa TBI lain yang berhasil mendapatkan juara di berbagai cabang lomba, diantarannya: Taufik Hidayat (Juara 2 Bulu Tangkis Single Putra), Novi Zuliatiningsih (Juara 1 MTQ Putri) dan Nur Hikmah (Juara 3 Puisi Putri). Selain itu, secara keseluruhan STAIN Salatiga berhasil meraih peringkat ketiga sebagai juara umum dengan perolehan medali emas 5, perak 4 dan perunggu 6 sehingga totalnya ada 15 medali, hanya selisih 1 perak saja dari juara umum 2 STAIN Pekalongan. Prestasi ini sebenarnya menurun satu tingkat mengingat 2 tahun kemarin di STAIN Kudus, kami peringkat 2 juara umum dengan hanya selisih 1 medali emas dengan tuan rumah, STAIN Kudus. Semoga PORSENI selanjutnya yang Insya Allah akan dilakskan di STAIN Tulung Agung 2 tahun lagi, STAIN Salatiga bisa lebih berjaya. Amin.
Untuk informasi daftar pemenang bisa dilihat di laman: http://porseni.iain-surakarta.ac.id/?page_id=219
Contributor: Marisa Fran Lina
(F)
English Version:
http://tbi.stainsalatiga.ac.id/tbi-stain-salatiga-got-double-champion-at-english-speech/