Tak Ada Roti, Tempe Jadi Kesukaan

Suara Merdeka, 15 Januari 2009

Sonia Simon, Mahasiswa Pertukaran STAIN – Jerman

            Bagi Sonia simon (23), mahasiswa Albert Ludwigs Universitat Freiburg Jerman, tiga bulan berada di Kota Salatiga terasa sangat singkat. Sebab, banyak pengalaman menarik yang dipetiknya, bahkan terasa masih kurang, selama mengikuti program pertukaran mahasiswa dengan STAIN Salatiga.

            Selain mengisi hari-harinya dengan mengajar di Panti Asuhan Sokka Blotongan Salatiga, Sonia juga mengikuti berbagai kegiatan yang digelar STAIN. Termasuk, hidup bertoleransi di dalam kampus yang menggunakan dasar Islam dalam melaksanakan kegiatan pengembangan pendidikan. “Saya benar-benar mendapat pengalaman banyak selama di sini,” Sonia yang cukup fasih berbahasa Indonesia.

            Mahaiswa antropologi tersebut mengungkapkan, di Jerman, dia sudah mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia untuk menambah pengetahuan. Tak disangka akhirnya dia bisa sampai juga di Indonesia, belajar bahsa dan budaya di Indonesia. “Saya bercita-cita sebagai antropolog, sehingga pengalaman berada di Indonesia menambah pengetahuan menunjang sebagai seorang antropolog, “ ujarnya.

            Pengalaman itu disampaikan Sonia ketika menghadiri perpisahan dirinya denga sejumlah dosen STAIN di RM Banyubening, Rabu (14/1) siang. Hadir dalam kegiatan itu Ketua Pengembangan Bahasa STAIN Sidqon, dosen STAIN Kastolani, Irvan, Hammam, dan Humas Beny Ridwan.

            Soal Keseharian, Sonia mengaku pada awalnya kesulitan beradaptasi dengan makanan khas setempat. Dia kesulitan mencari roti khas Jerman yang menjadi makanan pokoknya. Maklum, roti dan keju yang berlemak merupakan makanan kesukaan penduduk Jerman. Namun, dia sadar berada di negeri orang, harus dapat beradaptasi pula dengan makanan yang ada. Alhasil, karena sering disuguhi temped an tahu, di tempatnya tinggal, akhirnya makanan khas dari kedelai itupun disukainya.

            Hal itu dibenarkan oleh keluarga dosen STAIN, Hammam, yang menjadi tempat homestay Sonia. “Selain suka temped an tahu, dia juga suka makan sayuran, termasuk kangkung, “ ungkap Hammam.

Menimba Ilmu

Sebagai seorang antropolog, Sonia juga mau mengikuti budaya yang ada. Seperti mempelajari kebiasaan-kebiasaan orang Jawa dalam menghormati tamu, kebiasaan umat muslim, dan lainnya. Anak tertua dari dua bersaudara yang lahir pada 13 Oktober 1985 tersebut berharap dapat kembali ke Indonesia untuk menimba ilmu lain yang belum sempat didapatnya.

            Salah satu kebiasaan orang Indonesia yang tidak disenanginya adalah tidak tepat waktu. Sonia kerap menyebutnya “jam karet”. “Sejak masih di Jerman, saya kerap disuruh dosen menulis “jam karet” di buku untuk mengingatkan agar tidak terbiasa dengan kebiasaan itu. Yakni kebiasaan orang Indonesia yang tidak tepat waktu.”

Written by Surya Yuli Purwariyanto

(F)