Rabu 7 Mei 2014, kami menyelenggarakan sarasehan TBI dengan mendatangkan pemateri dari Inggris, Nick Palfreyman. Beliau seorang tunarungu yang sedang menyelesaikan studi S3 nya di Indonesia. Disertasinya mengenai perbandingan bahasa isyarat di Makasar dan di Solo. Beliau juga dulu ketika berada di Australia sempat bertemu dengan dosen TBI; Bapak Hanung Triyoko yang pada waktu itu juga sedang menempuh studi master di La trobe University. Kemudian, di Inggris Mr. Nick juga bertemu dengan dosen TBI yang lain; bu Noor Malihah yang ketika itu sedang menyelesaikan pendidikan S3 di Lancaster University. Suatu kebetulan yang membawa berkah :). Akhirnya, kami undang Mr. Nick untuk menjadi pemateri di sarasehan TBI.
Selain Mr. Nick, juga datang pemateri dari Ketua GERTAKIN Solo (organisasi kesejahteraan tunarungu), Muhamad Isnaini beserta para anggotanya, dari siswa sekolah, mahasiswa dan orang tua. Acara berjalan dengan lancar, dimulai dengan MC yang menggunakan bahasa Inggris, sambutan oleh Ketua Panitia; Bu Noor Malihah, pembukaan acara oleh Ketua STAIN Salatiga; Dr. Rahmat Hariyadi, M. Pd., kemudian inti acara yang dimoderatori oleh Pak Hanung Triyoko. Selama acara berlangsung para peserta tunarungu dan pemateri didampingi oleh seorang penerjamah ke dalam bahasa isyarat.
Untuk peserta sarasehan, kami mengundang seluruh guru BK SMA/MA/SMK se-Kota Salatiga, dosen-dosen STAIN Salatiga dan perwakilan mahasiswa dari UKM STAIN Salatiga serta pengurus Biro Konsultasi Tazkiya STAIN Salatiga. Peserta yang datang hampir mencapai 100 orang.
Ketika acara inti belangsung, Mr. Nick dalam menyampaikan materi lebih nyaman tidak menggunakan mic. Ini dikarenakan beliau bisa dengan bebas menggunakan body language untuk menjelaskan, beliau bahkan menggunakan bahasa Indonesia yang cukup lancar dalam menyampaikan materi. Beliau mengutarakan bahwa yang paling penting dalam pengajaran anak tunarungu adalah fokus pada apa yang siswa bisa lakukan daripada yang dia tidak bisa lakukan, serta jangan lupa “praise” memberikan pujian pada setiap perkembangan sekecil apapun itu untuk membesarkan hatinya.
Setelah sesi materi oleh Mr. Nick, acara selanjutnya adalah testimoni dari ketua dan salah satu anggota GERTAKIN tentang perjalanan hidup mereka sebagai penyandang tunarungu. Mereka berbicara dengan bahasa isyarat dan penerjemah menyampaikannya dengan Bahasa Indonesia. Mendengar cerita mereka, cukup terenyuh juga karena mengajari kita untuk lebih banyak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan dan sungguh Allah itu memang Maha Adil karena menciptakan makhluk-Nya yang lepas dari segala kekurangan selalu ada banyak kelebihan yang bahkan orang normalpun tidak mampu melakukannya. Karena seperti yang ditampilkan Mr. Nick ketika usai acara, beliau berhasil memainkan melodi yang indah dengan menggunakan keyboard. Sungguh Maha Besar Allah :).
Pada sesi tanya jawab, banyak peserta yang antusias bertanya kepada Mr. Nick perihal pengajaran istimewa tersebut. Sementara itu, Ibu Hj. Lilik Sriyanti, M. Pd, Ketua Biro Konsultasi Tazkiya STAIN Salatiga juga menceritakan sekilas perihal pendidikan ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) di yayasan yang beliau sedang rintis. Beliau juga mempersilahkan kepada siapa saja untuk memberikan dana guna berkembangnya yayasan tersebut.
Di akhir acara, pembawa acara mengutip kata mutiara indah dari Hellen Keller, seorang penyandang tunarungu, tunanetra dan tunawicara, dia hanya mampu berkomunikasi melalui sentuhan dan bahasa isyarat. Namun dia berhasil menjadi insipirasi banyak orang di dunia, berikut kutipannya: “The most beautiful things in life cannot be seen or even touched. They must be felt by the HEART. Hal-hal paling indah dalam hidup ini adalah yang tidak dapat dilihat atau bahkan disentuh, tetapi dapat dirasakan dengan HATI.
“Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” QS. Ar-Rahman
Contributor: Marisa Fran Lina
(F)
English version: