How to Get a Scholarship

Jum’at, 06 September 2013

kuliah-murahMendapatkan beasiswa ke luar negeri, tentunya menjadi idaman bagi setiap orang (mahasiswa). Setiap mahasiswa berlomba-lomba untuk mendapatkan kesempatan untuk dapat memperdalam ilmu sembari berjalan-jalan gratis.

Hal ini didukung juga dengan begitu banyaknya universitas luar negeri yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar di sana. Dari mulai kursus pendek (Short Course), S2 (Master Degree), S3 ( Post Graduate), Asisten Pengajar (Lecturer Assistant) , Penelitian (Research Program), dan masih banyak program lainnya. Seperti sebuah peribahasa, ” dimana ada semut, di situ pasti ada gula”, dimana ada beasiswa disitu pasti banyak pelamarnya. Memang tidak dapat dipungkiri, meskipun banyak kesempatan, tetapi pelamarnya juga semakin banyak. Sederhananya, saingan kamu semakin banyak.

Akan tetapi, kamu tidak perlu khawatir selama masih ada kesempatan, pasti di situ ada peluang. Semoga nasehat berikut ini dapat meloloskan kamu untuk mendapatkan beasiswa tersebut:

1. Pastikan kamu mendapat restu dari orang tua

Ini merupakan hal pokok dan utama yang harus kamu lakukan. Sampaikan kepada orang tuamu bahwa kamu berniat untuk melamar beasiswa ke luar negeri. Jangan sampai segala sesuatunya sudah kamu persiapkan namun akhirnya kamu tidak jadi mengirim aplikasimu karena terganjal restu dari orang tua. Tentunya kamu akan merasa kecewa yang mendalam. Tetapi, jika orang tua mendukung, insyallah  jalan kamu untuk mendapatkan beasiswa tersebut semakin mudah.

2. Pilihlah beasiswa yang kamu minati dan sesuai dengan bidang kamu

Hal ini dimaksudkan agar kamu mempunyai peluang yang lebih besar untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Karena secara tidak langsung kamu sudah mengetahui background cabang ilmu yang ditawarkan oleh beasiswa tersebut. Sebagai hasilnya, kamu akan bersemangat dan berusaha sebaik mungkin karena beasiswa yang kamu pilih sesuai dengan minta kamu.

3. Pelajari dan pahami betul beasiswa yang akan kamu ambil

Setelah kamu memilih beasiswa yang sesuai dengan bakat dan minat kamu, selanjutnya yaitu mempelajari dan memahami persyaratan yang harus dipenuhi. Sebagai contohnya, kamu harus paham betul apakah itu termasuk full scholarship atau not-full scholarship, ketentuan-ketentuan selama kamu menjadi mahasiswa di sana (kontrak belajar/ MoU) ataupun setelah pulang dari sana, dan juga persyaratan untuk aplikasi.

4. Mempersiapkan TOEFL

Tidak dapat dipungkiri bahwa beasiswa luar negeri tidak dapat dipisahkan dari TOEFL (Test Of English as a Foreign Language). Meski tidak semua beasiswa menjadikan TOEFL sebagai syarat utama, akan tetapi sebagian besar mengharuskan nilai TOEFL ( TOEFL ITP) yang tinggi sebagai salah satu persyaratan (biasanya score minimum adalah 500). Bahkan bisa dikatakan tinggi rendahnya nilai TOEFL menjadi gerbang pertama. Sehingga jika kamu mempunyai keinginan untuk belajar di luar negeri, alangkah baiknya jika kamu mempersiapkan diri kamu semenjak semester pertama. Hal ini dimaksudkan agar kamu bisa meraih score TOEFL yang maksimum.

5. Banyak bertanya kepada Dosen, Foreigner, atau mahasiswa yang pernah atau sedang menerima beasiswa ke luar negeri

Semakin  kamu sering bertanya maka semakin memantapkan diri kamu untuk melamar beasiswa tersebut. Saran, nasehat, serta pengalaman mereka juga mematangkan persiapan diri kamu. Selain itu, hal tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan apakah kamu benar-benar mampu tinggal di luar negeri ( selengkapnya akan dijelaskan pada poin ke enam). Tentunya, kamu bisa meminta bantuan mereka untuk memberikan koreksi terhadap form aplikasi (cara menulis aplikasi yang benar), serta bagaimana cara mempersiapkan diri kamu menghadapi tes wawancara. Bahkan, kamu harus meminta surat rekomendasi dari Dosen untuk meyakinkan sponsor bahwa kamu memang pantas untuk mendapatkan beasiswa tersebut.

6. Mempersiapkan Mental dan Financial

“Lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain belalangnya”. Kamu tentu tahu arti dari peribahasa ini bukan? Yang intinya adalah setiap negara mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda. Itu yang harus kamu garis bawahi. Kita harus sadar bahwa hidup di luar negeri tidak semudah yang kita bayangkan. Mungkin ketika melamar, yang kamu pikirkan hanyalah tentang diterima atau tidaknya tanpa berpikir cara beradaptasi di sana. Mungkin sebagian besar dari kamu akan menjadikan masalah adaptasi setelah sampai di sana, tapi bukankah ini lebih baik jika dipersiapkan dari awal? Sebagai contohnya, kamu harus mempelajari wilayah yang akan kamu tempati jika kamu diterima (cuacanya, lingkungannya, dan yang pasti bergaul dengan native itu tidak mudah). Kamu juga harus banyak membaca buku tentang bagaimana hidup di luar negeri. Jadi pahami betul karakter orang luar negeri. Meskipun itu bisa dilakukan ketika di sana, tapi tidak ada salahnya sedia payung dulu sebelum hujan ataupun panas.

Selain hal di atas, kita harus siap untuk menabung jauh-jauh hari. Meski itu full scholarship, tetapi kita juga perlu mempersiapkan keuangan kita. Setidaknya kita bisa menggunakan uang kita sendiri untuk kebutuhan yang mendadak di luar kebutuhan kuliah. Tidak usah terlalu besar, secukupnya saja. Yang utama kita bisa mengatur keuangan kita sebaik mungkin. Jangan sampai kuliahnya belum selesai, uangnya sudah habis. (hehehe)

7. Berdoa

Meskipun ini langkah terakhir, akan tetapi langkah ini mempunyai kekuatan luar biasa. Sekeras-kerasnya kita berjuang, jika Tuhan tidak meridhoi tentu itu tidak akan terkabul/tercapai. Jadi, dalam berusaha, tunjukkan kepada Tuhan bahwa kita pantas untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Namun, jika Tuhan berkata lain yakinlah bahwa itu bukan yang terbaik untuk kita. Dan percayalah juga bahwa Tuhan punya rencana lain, jika tidak tahun ini, mungkin tahun berikutnya. Yang penting tetap optimis. Ingat, dibuka dengan restu orang tua, dan di tutup denga ridho Tuhan, insyallah dilancarkan. Amin. (F&T)